Minggu, 12 Juni 2016

[Book Review] Purple Eyes – Si Pemuda yang Tak Merasa dan Si Gadis yang Sudah Mati

 
Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada sedih. (Purple Eyes, hal. 117)

 
Mungkin bisa dibilang saya agak ketinggalan membaca Novella ini. Tapi apa mau dikata. Terbentur pekerjaan yang menguras pikiran membuat saya mengabaikan beberapa novel yang ‘kejar tayang’ untuk dibaca dan dibuat review. After such work, I need something light and my choice is Purple Eyes by Prisca Primasari.

Sinopsis
Karena terkadang,
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung
rasa sakit yang bertubi-tubi.

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa.
Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang
keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi,
menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa
merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya.
Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya.
Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan
membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju.
Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap
sekalipun.


Solveig atau Lyre adalah asisten Dewa Kematian terkenal dalam mitologi, Hades. Hades jarang sekali ke dunia manusia, kecuali karena kejadian tertentu. Dan kali ini, Solveig harus ikut Hades menyamar menjadi manusia untuk menghentikan serangkaian pembunuhan keji yang telah memakan banyak korban. Tugas Hades menghukumnya, dengan cara manusia, dan pilihannya jatuh kepada Ivarr Amundsen, kakak Nikolai Amundsen yang merupakan salah satu korban pembunuhan tersebut. Solveig mendapatkan tugas untuk memancing emosi Ivarr yang telah membeku sejak kematian Nikolai. Solveig tadinya tidak terlalu suka dengan Ivarr dan rencana Hades yang misterius itu. Namun kemudian, sesuatu yang sudah lama hilang dari dirinya dan Ivarr muncul di antara mereka. Lalu, bagaimana dengan hubungan mereka? Read it. I’ve given some spoilers here.

Novella ini adalah novella terbaru Prisca Primasari dan merupakan novella kedua yang diterbitkan oleh in-print Penerbit Haru, Penerbit Inari yang mengkhususkan menerbitkan novel-novel karya penulis lokal. Seperti ringkasan di atas, novel ini bercerita tentang pertemuan Solveig dan Ivarr Amundsen di Trondheim, di musim yang bersalju dan penuh badai, pada saat tergelap Ivarr.

First Impression

I love the cover. Di cover novella, terdapat seorang pemuda yang berjalan di depan dan seorang gadis berambut pendek yang berjalan di belakang si pemuda dengan dihiasi latar berwarna keunguan, gundukan salju putih, dan pepohonan tanpa daun yang sebenarnya terlihat agak menyeramkan. Saat mbak Prisca meminta pendapat di media sosial mengenai cover mana yang lebih cocok untuk buku barunya, saya langsung jatuh cinta dengan buku ini. Menurut saya, cover ini cantik dan sudah cukup menyampaikan apa isi novella ini.

How did you experience this book?

Gregetan. Sedih. Gelap. Dan misterius. Gregetan karena sikap Ivarr yang seperti patung lilin tanpa emosi (sehingga membuat Solveig kesal dan marah). Oh dan juga gembira. Campur aduk. Novella ini sangat khas mbak Prisca. Kue-kue lucu. Cokelat, teh, permen. Light and dark. Bitter and sweet. Campuran dari semua itu tidak menghasilkan rasa yang aneh, namun menimbulkan sensasi yang bikin nagih. Maksudnya, nagih karyanya mbak Prisca lagi. Kalau banyak yang berharap kisahnya lebih panjang, menurut saya sudah cukup sampai di situ saja. Dan ending-nya pun sudah sempurna. So there is no need to make it longer. It’s just my opinion.

Character

Tentu saja karakter kesukaan saya adalah Solveig. Sekalipun dia memiliki atasan yang luar biasa aneh dan misterius, dia tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Namun pada saat yang tepat dia juga bisa membuat keputusannya sendiri, sekalipun keputusannya itu bertentangan dengan rencana Hades dan membuatnya turun tangan sendiri.

Plot

Plot novella ini adalah plot maju atau progresif, di mana berawal dari Hades dan Solveig berkunjung ke dunia manusia untuk membereskan pembunuh berantai tersebut dan kemudian menemukan Ivarr Amundsen.

POV

Orang ketiga

Tema

Mystery. Fantasy. Mithology. Romance. Gods.

Quote

Ada satu quote favorit saya yang diucapkan oleh Hades:

“Orang menangis karena kehilangan itu wajar. Yang tidak wajar adalah kalau dia tidak menangis. Lebih tidak wajar lagi kalau tidak merasa sedih.” (Halstein, Purple Eyes, hal. 50).

Ending

Memuaskan. Terharu. Sedih. Pokoknya campur aduk. Menurut saya ending novella ini sudah cukup. Tidak perlu lebih panjang lagi.

Benefit

Pesan novella ini: Kesedihan merupakan sesuatu yang berat, namun kebencian dan membenci jauh lebih berat. Karena itu, kita harus belajar memaafkan. Dan kita tidak perlu menghilangkan rasa. Menangislah bila perlu. Dengan menangis, kita bisa melepaskan perasaan yang mengganjal tersebut. Namun setelah menangis, kembalilah untuk hidup. Karena yang mati tidak akan pernah kembali ke dunia ini lagi.

Question

Kepada mbak Prisca: How do you feel after you’ve written this novella?

4 out of 5 stars for this amazing novel.

P.s.: I don’t know why, but I keep picturing the place Cygnus Hyoga and Crystal Saint live in when I try to imagine Trondheim. Reading this novel makes me remember the Saint Seiya anime I used to watch in the past (sorry for my otaku side).

Tidak ada komentar: