Rabu, 15 Juni 2016

[Book Review] Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken – Kisah tentang Buku yang Sangat Mengagumkan



Tenang, Sobat. Kamu kan tak bisa begitu saja percaya bahwa dunia nyata adalah persis sama dengan yang digambarkan oleh buku terakhir yang kamu baca. Karena bacaan adalah bacaan. Dan penyihir tidak tumbuh di pepohonan. (Berit – Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, hal. 139)


 I’m back with another book review. Kali ini buku yang saya pilih adalah salah satu karya Jostein Gaarder yang berjudul Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken yang ditulisnya bersama dengan Klaus Hagerup. Ya, bila dilihat memang agak melenceng dari apa yang biasanya saya baca. Tapi saya cukup penasaran dengan karya-karya Jostein Gaarder. Yah meskipun saya belum berani membaca Dunia Sophie yang menurut saya cukup berat (tentang filsafat soalnya).

Sinopsis

Pembaca yang baik,
Buku di tangan Anda ini benar-benar unik. Susah menggambarkan isinya. Tapi kira-kira seperti ini:
Dua saudara sepupu, Berit dan Nils, tinggal di kota yang berbeda. Untuk berhubungan, kedua remaja ini membuat sebuah buku-surat yang mereka tulisi dan saling kirimkan di antara mereka. Anehnya, ada seorang wanita misterius, Bibbi Bokken, yang mengincar buku-surat itu. Bersama komplotannya, tampaknya Bibbi menjalankan sebuah rencana rahasia atas diri Berit dan Nils. Rencana itu berhubungan dengan sebuah perpustakaan ajaib dan konspirasi dalam dunia perbukuan. Berit dan Nils tidak gentar, bahkan bertekda mengungkapkan misteri ini dan menemukan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken.
Tetapi buku ini tidak sesederhana itu, buku ini juga berisi cerita detektif, cerita misteri, perburuan harta karun, petualangan ala Lima Sekawan, Astrid Lindgren, Ibsen, Klasifikasi Desimal Dewey, Winnie the Pooh, Anne Frank, kisah cinta, korespondensi, teori sastra, teori fiksi, teori menulis, puisi, sejarah buku, daram, film, perpustakaan, penerbitan, humor, konspirasi ....
Masih juga tidak tertarik? (Haaahhh?) Baca komentar ini:
“Sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan.”
Ruhr Nachricht–

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken bercerita tentang Berit dan Nils yang sering berkirim surat karena mereka tinggal di dua kota yang berbeda. Pada suatu hari, mereka memutuskan untuk membeli sebuah buku dan menggunakannya sebagai buku–surat atas saran Billie Holiday. Mereka pun mulai menuliskan apa saja yang mereka alami, rasakan dan pelajari, termasuk tentang seorang wanita misterius bernama Bibbi Bokken, yang membantu Nils membeli buku yang mereka gunakan sebagai buku–surat. Mereka bertukar pikiran tentang apa yang Bibbi inginkan, karena mereka merasa apa yang Bibbi lakukan sangatlah aneh. Nils dan Berit mulai membahas berbagai teori yang dapat mereka pikirkan, bahkan dengan melibatkan banyak sekali referensi buku yang, menurut saya, tidak akan pernah dibaca anak-anak di Indonesia yang seusia dengan Nils dan Berit. Semakin mereka menulis, semakin mereka merasa terancam dan ketakutan. Bahkan guru Nils, Pak Bruun, entah kenapa juga ikut terlibat. Nils juga dikejar-kejar oleh pria misterius yang mereka panggil Smiley. Lalu, apa yang akhirnya terjadi? Silakan kalian membacanya. Yang pasti, kalian tidak akan menyesal membaca buku karya Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup ini.


First Impression

I’m impressed. Saya juga penasaran. Di cover novel ini, ada dua orang remaja, laki-laki dan perempuan (Nils dan Berit), yang berlari di tengah lorong yang dindingnya dipenuhi dengan rak-rak yang berisi buku (cover versi terbitan tahun 2006). Ada cukup banyak versi cover aslinya, namun menurut saya saya paling suka dengan versi bahasa Indonesia yang diterbitkan tahun 2006 (Penerbit Mizan menerbitkan ulang novel ini di tahun 2011 dan 2016 dengan cover yang berbeda).

How did you experience this book?

Speechless. Selama membacanya, saya diajak bertualang mengikuti petualangan Nils dan Berit. Saya pun diajak belajar tentang berbagai hal; dari Klasifikasi Desimal Dewey, interpretasi karya sastra terkenal seperti Winnie the Pooh, berwisata ke Roma, buku-buku kuno dan buku-buku yang tengah dan akan beredar, hingga tentang kepenulisan dan penerbitan. Sepanjang novel ini kita tidak akan dipisahkan dari yang namanya BUKU, PUSTAKA dan KEPENULISAN. Dan komentar bahwa novel ini merupakan surat cinta kepada buku dan dunia kepenulisan memang sangatlah tepat. It feels like it’s really a love letter to books.

Characters

Ada cukup banyak karakter di novel ini, namun yang paling menonjol adalah Nils dan Berit. Nils dengan imajinasinya yang tanpa kendali dan mengagumkan, serta Berit dengan akal sehatnya dan kepintarannya benar-benar saling melengkapi. Tidak lupa Bibbi Bokken si bibiliografer yang eksentrik.

Karakter favorit? Tentu saja Berit. Dia mampu menganalisis dan mengendalikan imajinasi Nils yang liar dan tidak terkendali. Berit dapat berpikir jernih dan tenang, walaupun ada beberapa adegan di mana dia juga sama takutnya dengan Nils. Namun dia bisa mencerna semuanya dengan baik. Two thumbs up for Berit the Smart Girl.

Plot

Progresif atau maju.

POV

Orang pertama, bergantian antara Nils dan Berit.

Tema

Fantasy. Mystery. Adventure. Bibliographer. Literature. You name it.

Quotes

Saya bingung harus memilih yang mana karena ada banyak sekali quote yang bagus menurut saya. Namun pada akhirnya saya memilih quote ini.....

“Jika aku membaca sebuah buku yang kusukai, rasanya apa yang kubaca membawa pikiranku terbang melayang keluar dari buku itu. Buku kan tidak hanya terdiri dari kata-kata atau gambar di atas kertas belaka, melainkan juga semua yang aku bayangkan saat membacanya.” (hal. 43)
Ending

Akhirnya kebenaran telah terungkap sudah (the ending is a secret. Please read the book).

Pertanyaan

Bagaimana Berit, yang notabene tidak paham bahasa Italia, dapat memahami apa yang dikatakan Mario?

Benefit

Oke, manfaatnya cukup banyak. Pertama, walaupun zaman semakin canggih dan ada banyak hiburan digital, namun tidak akan dapat menggantikan peran buku (saya masih suka membeli buku fisik daripada e-book atau pdf). Kedua, kita bisa belajar banyak dari novel ini untuk mencintai buku. Ketiga, membaca buku dapat menambah wawasan, seperti yang dikatakan oleh Bibbi di halaman 256, “Siapa pun yang membaca banyak buku, punya mata di berbagai tempat yang unik.” Keempat, buku-lah yang dapat kita wariskan kepada generasi masa depan, sehingga mereka dapat mengetahui apa saja yang terjadi atau pengetahuan yang ada sekarang. Semuanya berawal dari buku dan membaca.

Ini buku Jostein Gaarder yang saya baca (berkolaborasi dengan Klaus Hagerup), dan cukup membekas. Sebenarnya sudah dari kemarin saya sudah hampir sampai di halaman akhir. Namun saya berlama-lama membacanya, entah kenapa merasa sayang untuk mengakhirinya. But I’m not disappointed. Mungkin agak membosankan di awal. Tapi lama-kelamaan buku ini akan menyedot kalian mengikuti alur ceritanya. Trust me!

4 out of 5 stars for this inspiring novel.